Sungguh mulia ajaran ini. Dan sungguh bersyukurnya ajaran ini menjadi mayoritas dianut di negeriku. Ajaran Islam, secara kalkulasi pnduduk, mayoritas penduduk negara kita ber KTPkan Islam.
Semua adalah saudara. Tak ada yang lebih mulia antara satu dan yang lain. Semua sama dimata Tuhan.
Tidak sempurna keimanan seseorang hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.
Yang lemah diantara kalian, berilah makan seperti yang kau makan, berilah mereka pakaian sebagaimana yang kau pakai.
Ini adalah beberapa dari sekian banyak ajaran sosial yang dibawa oleh ajaran ini.
Ini adalah beberapa dari sekian banyak ajaran sosial yang dibawa oleh ajaran ini dan sekali lagi saya dengan sukarela mengatakan sungguh mulia ajaran ini.
Namun sayang, ada yang hilang dari ajaran ini dalam pergulatan sosial masyarakat yang mengaku mayoritas memeluk ajaran ini. Dan itu merupakan esensi dari ajaran ini.
Apakah itu?
"Kepekaan Sosial" sebagaimana yang diaplikasikan dan diajarkan oleh Nabi yang datang dari Tuhan.
Yang nampak dalam keseharian adalah individualisme, egoisme, yang berakar dari nilai tauhid yang tak termaknai hampir tergeser oleh pandangan materialisme. Semua sibuk dengan diri sendiri. Persaudaraan, tolong menolong atau kepekaan sosial hanya sebatas kata-kata yang masuk ke lubang telinga tanpa penghayatan.
Pengaplikasian ajaran ini menjadi minoritas di negeri yang mayoritas masyarakatnya mengaku memeluk ajaran ini.
Ajaran ini diperlakukan hanya sebatas teriakan di mimbar-mimbar masjid, kemudian dilupakan. Seakan agama hanya ada dalam masjid, seakan agama hanya sebatas ritual tanpa ada implikasi sosial.
Geli rasanya, dengan lantang mereka meneriakkan kata tolak untuk sekularisme karena guru-gurunya mengajarkan untuk menolak. Namun sekularisme telah mengakar dalam keseharian mereka.
Dengan jelas Ateisme diharamkan oleh bangsa ini, namun banyak yang kebingungan hendak bertuhan pada "apa" hingga memilih bertuhan ala kadarnya.
Sungguh menggelikan dan memilukan hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar