Jumat, 01 November 2013

Biar aku yang memilih

Kita hidup di dunia ini subah banyak perbedaan persepsi yang telah tersedia untuk kita cerna. Entah sejak kapan perbedaan itu ada dan ketika kita ada, perbedaan sudah begitu sangat tuanya dan tak bisa kita nafikan lagi. Kita diperhadapkan perbedaan yang saling mengaku benar yang hal ini menuntut kita untuk menjadi seorang pencari., melakukan perbandingan dan menemukann nilai. Nilai yang kita berdiri kokoh di atasnya, nilai itu bernama kebenaran, bukan pembenaran.

Tapi menjadi pencari memiliki konsekuensi bahwa kita harus menjadi manusia penanya. Menjadi penanya ini ternyata sulit, sebab terkadang ada dari sebagian orang yang tak mau menerima ketika sesuatu yang dikiranya benar dipertanyakan. Sering terpikir, kenapa mesti takut mempertanyakan kebenaran, bukankah nilai tak akan berubah, benar selamanya benar dan salah akan tetap salah meski pernah kita mengira bahwa itu benar. Jika benar yang kita pegang, kenapa meski takut bertanya. Kecuali ketika kita berpihak pembenaran, patutlah kita wapada dan anti tanya sebab ia akan terbongkar ke wajah aslinya.
Jika memang sesuatu itu benar, maka jangan jadikan ia pembenaran untuk anak cucumu. Biarkan ia memahaminya sebagaimana adanya, sebagai sebuah kebenaran. Biarkan ia mencari, bertanya, membandingkan dan akhirnya bersuka rela mengakuinya sebagai kebenaran. Itulah iman yang sesungguhnya.
Biar kebenaran tetap menjadi kebenaran, bukan pembenaran. Sebab ketika kita merubah nilai, sang pencipta nilai akan murka.

#Panrasu
"Aku ingin menjadi pencari dan menemukan nilai kebenaran itu, karena pembenaran tak  pantas mengisi sedikit pun celah dalam ruang pengetahuan dan keyakinanku"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar